ILOVECILEGON.CO - MENGHADAPI TEKS KEPENTINGAN ASAL KEPENTINGAN (K.A.K)

Berawal dari membaca teks drama milik Ratna Dwi Astutikia alumnus Teacher Supercamp 2015 yang berjudul Carut-marut Kepentingan. Segagas acara Komisi Pemberantasan Korupsi untuk menghallo penyakit korup di segala bidang dengan kerja teater, komik, cerpen, puisi, dan esai, yang dihimpun dalam sebuah buku berjudul Suara-suara dari Kelas Kecil.

Pada naskah itu, ditemukan drama yang teksnya termiliki oleh identitas ketokohan (bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak-anak), dimana identitas ketokohan dalam teks naskah mengharuskan bentuk penyajiannya merujuk pada konvensi realisme, dimana tokoh orang tua seyogyanya dimainkan oleh orang tua dan seterusnya.

Sedangkan konten atau isi di dalam naskah pada hakikatnya dapat dikonsumsi oleh semua kalangan; anak-anak, dewasa, dan orang tua. Sebab peritiwa naskah dinukil dari kejadian-kejadian di sekolah.

Pertanyaannya apakah itu bisa dimainkan oleh anak-anak yang baru menginjak sekolah menengah pertama?

Mari kita buka permainan rakyat (anak-anak) yang kita kenal dengan istilah "anyang-anyangan /pipidingan" di Sunda atau permainan "rumah-rumahan" atau permainan-permainan anak-anak yang meniru ketokohan orang dewasa/orang tua. Bukankah permainan anak-anak semacam itu banyak bertebaran di Nusantara ini?

Bila berkaca pada hal itu, ada kelonggaran dalam menyajikan bentuk pemanggungan, yang tentu terlebih-dulu dilakukan penyesuaian kalimat-kalimat supaya lahir keselarasan, pendek kata, peristiwa naskah dengan bentuk penokohan yang diperankan orang dewasa/orang tua dapat diseapi-seasapkan dengan pendekatan permainan rakyat tersebut, atau bahkan naskah seperti itu bisa didekati dengan pendekatan pertunjukan wayang/teater boneka.

Lawan Korupsi Dengan Literasi

Pencegahan korupsi dan perilaku koruptif lebih utama, sebab ia adalah penyakit atau virus atau wabah yang berbahaya, percis penyakit membuang sampah sembarangan, sama seperti virus tidak patuh rambu lalulintas, ia mesti dijauhi dan katakan tidak untuk selamanya.

Wabah korupsi yang dikenal menyoal uang dan penyalahgunaan kekuasaan,  menjelma dalam bentuk kecil-kecil, sepele dan sangat mendasar, seperti mencontek pada waktu ulangan, memakai sandal orang lain tapi tak pamit neminjam, meminjam ballpoint tapi tidak mengembalikan, intinya memakai kepentingan umum untuk pribadi dan apapun yang semestinya bukan hak pribadi dimiliki serta digunakan secara pribadi.

Korupsi sama sekali bukan budaya ataupun tradisi, sebab konteks budaya serta tradisi dalam kepala timur, sejatinya berkelindan dengan norma, etik dan kebiasaan yang berlandaskan pada konsep ketuhanan.

Memang benar, korupsi sudah menjadi kebiasaan, terlihat dari 168 negara, Indonesia menempati peringkat ke 88 dengan skor Corruption Perception Index: 36, di tahun 2015 (sumber tempo.co), bila di Asia Tenggara, Indonesia masih  dibawah Malaysia, Singapura dan Thailand.

Namun sangat disayangkan, kebiasaan itu jatuh pada perilaku sakit, ia penyakit yang sengaja disepakati, disiasati, dibela, dialihkan, ditutup-tutupi oleh plastik keburukan dan keji.

Oleh sebab itu, butuh penanganan diberbagai bidang, diberbagai kesempatan, diberbagai bentuk. Termasuk dalam hal ini adalah wujud teks yang sengaja diciptakan untuk mencegah laku korupsi.

Sebentuk literasi yang berwujud teks semestinya dapat direspon ulang oleh bentuk apapun, termasuk direspon-wujudkan ke dalam bentuk teater.

Pertunjukan teater bila dilihat dari prosesnya mengarah pada pembacaan teks yang dilakukan dengan proses internalisasi, ia tidak hanya sekedar membaca namun ia mewujud laku panggung.

Teater sebagai Proses Penyadaran

Banyak referensi mengenai teater, yang memfungsikan dirinya sebagai terapi, penyadaran, pemberdayaan, pemberontakan, teater untuk teater, teater eksperimen, teater ritual, teater riset, dll. Semuanya syah, semuanya baik dan tidak bisa menyebutkan dirinya lebih baik dari yang itu, semua ikut andil dalam kemungkinan pembentukan teater secara keseluruhan.

Teater dalam kacamata keIndonesiaan, justru paling unik, dimana idiom tradisi ikut mewarnai pembentukannya. Misalkan secara "bentuk" teater "menggunakan" bahasa daerah. Catatan Ethnologue Adi Budiwiyanto   (2015), sebanyak 7.102 bahasa dituturkan di seluruh dunia dan kita menuturkan 707 bahasa oleh sekitar 221 juta penduduk.

Artinya bila teater menggunakan kekuatan itu, maka ia akan  semakin beragam, beserta keberagaman imajinasinya. Belum lagi idiom seni tradisi yang adiluhung itu; idiom yang masih perlu digali sampai pada tingkatan esensi.

Tujuan yang saya baca dari keberagaman teater, salahsatunya adalah teater (bentuk-isi) yang sesuai dengan konteksnya, yang dekat dengan masyarakatnya, yang tak memisahkan diri dari lingkungannya, yang tak memperkosa kebutuhan serta keakraban masyarakat dengan persoalan sosial-budayanya.

Garapan K.A.K sengaja menitik-beratkan pada misi penyadaran; dalam hal ini pembelajaran anti korupsi sejak dini, minimalnya untuk para pemain dan pendukung, harapannya untuk semua yang mengapresiasi pertunjukan. Yang insyalloh tetap mengindahkan kejaran estetik.

Pertunjukan Kepentingan Asal Kepentingan akan dipentaskan di Sekolah Al Azhar Serang-Banten, pada hari Jum'at, tanggal 30 September 2016, jam 16.30-17.30 WIB.

Dan dipentaskan juga dalam rangkaian acara Indonesia International Book Fair (IIBF) 2016, yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center (JCC), pada hari Sabtu, tanggal 01 Oktober 2016, jam 10.00-12.30. Durasi pertunjukan 45 menit. | Peri Sandi Huizche (Art Director KOMBETH)


Foto lainnya:
Suasana Latihan Teater
Suasana Latihan Teater